| Penulis | : | Nersalya Renata |
| Kode Produk | : | TSB-226 |
| Tanggal Terbit | : | 06 Februari 2015 |
| Format | : | Sof Cover |
| Bahasa | : | Indonesia |
| Dimensi | : | 20 x 14 x 3 |
| Penerbit | : | Akar Indonesia |
| Ketersediaan | : | 90 |
Setiap karya puisi yang indah adalah karya yang mampu menimbulkan semangat perubahan, baik dalam bentuk heroisme atau pemberontakan, dalam lingkup individu maupun secara luas.
Lima Gambar di Langit-Langit Kamar menambah salah satu bentuk penghadiran heroisme tersebut. Berbeda dengan karya-karya yang sudah ada, ia mencoba merumuskan bentuk heroismenya sendiri dengan bekal yang cukup banyak dari proses kreatif yang lama. Pemberontakan, begitulah citra yang saya dapat ketika membaca puisi tersebut. Pemberontakan bukan hanya pada semangat, tapi juga dalam pembacaan kita terhadap realitas.
Hal ini terletak pada bentuk pengucapannya yang terasa tragis. Ia membicarakan hal-hal tabu dalam relasi lelaki-perempuan dengan sudut pandang seorang anak perempuan. Dapat dibayangkan, bagaimana seorang anak perempuan, yang belum tabu terhadap kelamin, tiba-tiba membicarakannya tanpa rasa bersalah. Ibaratnya film Tom and Jerry, di mana Tom selalu disiksa sampai remuk, ternyata bagi seorang anak kecil dijadikan sebagai bahan tertawaan. Sementara, bagi seorang dewasa, kejadian itu bisa saja sangat tragis.
Begitu juga dengan puisi-puisi Nersalya. Permainan dokter-dokteran mungkin sangat lumrah bagi anak kecil. Namun, tiba-tiba, dokter-dokteran itu dihubungkan dengan kelamin: kau telentang/membuka celanamu dan memintaku/memeriksa kelaminmu dengan stetoskop/karena katamu di situlah letak sakitmu//aku mulai memeriksa kelaminmu/namun kelaminmu mulai bergerak-gerak/seperti anak burung kelaparan/kau terus tersenyum-senyum (Stetoskop Plastik, hal. 27).
Bagi yang akrab dengan karya sastra, bentuk pengucapan ini sangat berbeda dengan sastrawan yang juga menggarap tema sistem hierarki lelaki-perempuan dan kelamin. Antologi ini tidak seperti Kuda Ranjang karya Binhad Nurohmat misalnya, yang tetap mengambil sudut pandang seorang lelaki dewasa. Begitu juga dengan trilogi Saman Ayu Utami.
Antologi Nersalya Renata ini terasa begitu tragis sekaligus menghadirkan bentuk pemikiran seorang anak kecil yang polos dan kadang-kadang tak terduga. Baca misalnya puisi “Rumah (hal. 36)”: ibu selalu menjadikan dirinya/rumah bagi ayah//rumah yang terus-menerus ditinggalkan/untuk dimasuki kembali oleh ayah.
Dalam puisi ini, peristiwa yang sebenarnya lumrah, mampu dihadirkan dengan pemaknaan ulang yang sangat kaya. Hal itu hanya bisa dipikirkan oleh seorang anak kecil yang belum mengerti sistem kebudayaan kita yang mengharuskan ayah untuk keluar rumah terus-menerus mencari penghidupan keluarga, sementara ibu menunggu dan menyiapkan segala hal bagi suaminya. Anak kecil tidak pernah memikirkan konstruk kebudayaan itu. Dengan begitu, apa yang ia lihat mampu menghadirkan penafsiran lain dari peristiwa yang biasa.
Di sinilah letak pemberontakan Nersalya. Ia seolah memasuki dunia dengan semangat penghayatan seorang anak kecil yang belum terikat oleh norma serta nilai-nilai tertentu. Ia mencoba memberikan penafsiran lain terhadap hal-hal sepele yang sering kita lupakan. Bahwa, kadang-kadang hal itu ternyata malah keluar dari norma “kebaikan” yang telah terkonstruk. Puisi ini semacam peringatan dari seorang bocah, bahwa apa yang kita lakukan, yang kita anggap biasa dan memang begitu adanya, kadang-kadang tidak beradab. Begitu pula sebaliknya.
Namun, usaha pemberontakan itu, kejeniusan itu, bisa menjadi titik utama kelemahan Nersalya. Sebab, seorang anak mampu membuat penafsiran yang berbeda karena ia belum tahu tentang norma dan nilai, tentang konstruk budaya. Jika ia sudah dewasa dan telah mempelajari konstruk tersebut, otomatis cara penafsirannya akan berubah. Sehingga, untuk kembali kepada penafsiran tanpa norma, perlu pula untuk keluar dari norma-norma yang sudah ada.
Patut diakui, usaha semacam itu sangatlah sulit. Perlu untuk benar-benar menanggalkan segala hal yang telah kita pelajari untuk menjadi seorang dewasa. Jika tidak mampu, maka puisi itu berada di awang-awang antara kekanakan dan kedewasaan yang kehilangan logika. Lihat misalnya dalam puisi “Fabel (hal. 14)”: mama/aku bosan/kaujejali fabel-fabel usang/setiap malam//aku selalu tersesat di hutan/dikerubuti binatang/yang terus bicara kebajikan. Puisi ini, dengan memakai sudut pandang seorang bocah, namun menjelaskan kejenuhan seorang dewasa yang setiap hari dijejali dengan kebijakan.
Meski begitu, antologi ini tetap memiliki posisi tersendiri dalam sastra Indonesia dengan pola retorisnya yang khas dan pemberontakan yang begitu kuat. Karya ini, bagaimana pun, sebuah warisan sastra yang perlu untuk terus dibicarakan.
